Selasa, 12 Februari 2008

Liquica pasado akontesemento

PERKEMBANGAN SITUASI TIMOR LOROSAE (23/2/1999) Tanggal 19 Februari 1999 kelompok Pro Integrasi melakukan Apel Akbar di Kecamatan Balibo. Kegiatan tersebut diprakarsai João Tavares, mantan Bupati Bobonaro dua periode, sekaligus pemimpin partisan wilayah Bobonaro, (sekarang Halilintar) bersama Muspida Tk. II Bobonaro melakukan sosialisasi otonomi paksa kepada warga kabupaten Bobonaro. Tanggung jawab siapa? “Menelantarkan nasib para janda merupakan pelanggaran hak asasi manusia” Perjuangan suatu bangsa untuk mencapai kemerdekaannya tidaklah mudah seperti membalik telapak tangan. Namun, membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit, seperti kehilangan nyawa dan kerugian materil lainnya. Imbas dari semuanya itu biasanya ditanggung oleh rakyat kecil. Hal yang sama terjadi juga di Timor Leste. Rakyat kecil yang menjadi lokomotif utama selama perjuangan sering mengalami berbagai macam penyiksaan dan bahkan bisa berbuntut pada kematian. Banyak perempuan Timor Lorosae yang menjanda karena suaminya terbunuh akibat kebiadaban militer Indonesia. Misalnya di Viqueque, terdapat salah satu desa yang dijuluki desa “janda” tepatnya di Lalerek Mutin. Disebut demikian karena sebagian besar perempuan di desa itu menjanda akibat suami mereka dibantai oleh TNI dalam peristiwa “Craras 1983”. Seiring dengan perjalanan waktu, jumlah perempuan Timor Lorosae yang kemudian menjanda kian bertambah terutama menjelang dan sesudah pelaksanaan referendum 1999. Di Liquica misalnya, terdapat satu organisasi keluarga korban bernama “Rate-laek”, yang merupakan kumpulan para janda yang suaminya dibunuh oleh TNI dan milisi saat sebelum dan sesudah pelaksanaan jajak pendapat 1999. Organisasi yang sama terdapat juga di Maliana dengan nama “Grupo 99” dan di Suai dengan nama “Mate-restu”. Sayangnya, hingga saat ini sebagian besar kehidupan mereka (para janda-red) sangat memperihatinkan. Para Janda korban kekerasan 1999 di Liquica(Foto: Cahyo/SIL) -------------------------------------------------------------------------------- Amelia dos Santos, salah seorang keluarga korban penyerangan Gereja Liquiça 1999, ketika ditemui Direito di kediamannya (03/07), ia mengatakan bahwa sejak suaminya meninggal ia terpaksa harus bekerja keras untuk menghidupi dan menyekolahkan 6 orang anaknya. Untuk mengatasi kesulitan ekonomi yang dihadapi, menurut Amelia, ia bersama teman-temannya (sesama janda-red) mendapat bantuan dari Fokupers dan Yayasan HAK. Dengan bantuan yang diberikan, katanya, mereka telah mendirikan sebuah koperasi dengan nama “Koperasi Ratelaek”. Koperasi tersebut dikelola secara bersama oleh para janda korban pembantaian di Gereja Liquica 1999. “Usaha ini (koperasi-red) sedikitnya telah membantu meringankan kesulitan ekonomi yang kami hadapi”, papar Amelia. Hal yang sama diungkapkan oleh Clara dos Santos. Janda beranak satu ini menuturkan bahwa sepeninggal suaminya, kehidupan ia bersama anaknya terpaksa menjadi beban dan tanggungan orang tuanya. “Saya merasa sangat kehilangan, sebab suami yang seharusnya menjadi tulang punggung keluarga telah tiada”, tuturnya dengan nada sedih. Diakuinya pula bahwa sejak suaminya terbunuh, ia terpaksa harus melewati masa yang sulit bersama anaknya. “Salah satu harapan untuk menghidupi dan menyekolahkan anak saya adalah mengelola koperasi”, tambahnya. Selain kelompok Ratelaek, Fokupers dan Yayasan HAK juga membantu kelompok 99 di Maliana. Kumpulan para janda yang suami mereka terbunuh saat sebelum dan sesudah referendum 1999. Kordinator 99, Regina Leite, ketika ditemui Direito, mengakui bahwa kelompoknya mendapat bantuan dari Fokupers dan Yayasan HAK untuk mendirikan sebuah koperasi. Tetapi sayangnya koperasi tersebut kurang begitu maju karena hambatan transportasi. “Usaha ini kurang berhasil karena kesulitan transportasi untuk pengadaan barang”, katanya dengan kesal. Kendala yang dihadapi Koperasi 99, dibenarkan oleh Staf Divisi Advokasi Fokupers, Rosi de Sousa. Ketika ditemui Direito di ruang kerjanya (12/07), ia mengatakan bahwa peran Fokupers sebatas mengorganisir dan mengarahkan, sedangkan inisiatif harus selalu dari para keluarga korban sendiri. Menurutnya, untuk mengatasi persoalan yang dihadapi diperlukan inisiatif dan kerjasama yang baik diantara anggota. Tanpa itu, persoalan yang dihadapi akan sulit diatasi. Lanjut Rosi, kegiatan lain yang dilakukan organisasinya bersama Yayasan HAK untuk memberdayakan para keluarga korban ialah memberikan pelatihan mengenai manajemen koperasi. Disamping itu dilakukan pula diskusi-diskusi intensif menyangkut isyu-isyu seperti hak asasi manusia, kekerasan, gender, rekonsiliasi dan proses penegakan hukum di Timor Lorosae. Selain untuk meningkatkan kapasitas mereka menuju kemandirian, tujuan paling utama ialah menggalang dukungan bagi penuntutan keadilan. Kehidupan para janda hingga saat ini seakan dibaikan begitu saja. Siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas keadaan mereka? Negara, terutama pemerintah punya tanggungjawab untuk menjamin kesejahteraan rakyat, terutama para janda yang suaminya telah mengorbankan jiwanya untuk kemerdekaan negeri ini. Sebab pengabaian terhadap nasib para keluarga korban bukan saja pengingkaran terhadap prinsip-prinsip dasar perjuangan Timor Lorosae, tetapi juga merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia. *** Tanggal 21 Februari 1999, Team Halilintar dibawah pimpinan João Tavares, melakukan aksi penangkapan dan penganiayaan warga Kecamatan Atabae. Tindakan brutal tersebut dilakukan ketika para warga sedang pulang gereja dan sedang berbelanja di pasar tradisional Atabae. Sedikitnya 6 orang warga Atabae yang bisa teridentifikasi identitasnya. Diantaranya : 1. David, 20an thn, laki-laki, Mahasiswa Untim, berasal dari Desa Raerobo, Kecamatan, Kabupaten Bobonaro. 2. Amandio, 30 thn, laki-laki, petani, berasal dari Desa Raerobo, Kecamatan, Kabupaten Bobonaro. 3. José, 20an thn, laki-laki, Mahasiswa Untim, berasal dari Desa Aidabalete, Kecamatan Atabae, Kabupaten Bobonaro 4. Mau-Ato, 20an thn, laki-laki, petani, berasal dari Desa Aidabalete, Kecamatan Atabae, Kabupaten Bobonaro. 5. Andre Guterres, 15 thn, laki-laki, petani, berasal dari Desa Raerobo, Kecamatan, Kabupaten Bobonaro. 6. Pedro, 20an thn, laki-laki, petani, , berasal dari Desa Raerobo, Kecamatan, Kabupaten Bobonaro. Ke-6 orang tersebut setelah ditangkap dipukul dengan menggunakan tongkat hingga babak belur. Berdasarkan informasi saksi mata bahwa setelah disiksa kemudian para korban dibawa ke Markas Koramil Atabae. Pada malam hari Team Halilintar yang telah dilengkapi dengan senjata otomatis mulai melakukan operasi di daerah Atabae dan sekitarnya. Sampai laporan ini dibuat belum diketahui nasib ke-6 orang warga yang telah ditangkap. Sementara pada tanggal 21 terjadi pengeledahan terhadap setiap penumpang pesawat dari jakarta dengan tujuan Dili tidak bisa mendarat beberapa jam karena diduga adanya BOM di bandara sehingga batal mengudara dan kembali mengudara di EL Tari Kupang. Akibat dari semua penumpang diperiksa sehingga saat itu Manuel Carascalao menanggapi dengan mengusir semua tentara agar segera pulang dari TL. Adapun ungkapan MC adalah seharusnya saya yang periksa kalian karena kalian di daerah saya, tidak tahu malu, kami bukan terroris, pulang ke daerah kalian. Menanggapi opsi dari untuk melepaskan TL dari jakarta sudah ribuan warga pendatang telah eksedous dan kemungkinan besar akan terjadi besar-besaran pada bulan maret dan april. Sudak sekitar 500 kendaraan roda empat dan ribuan kendaraan rod dua dipindahkan (sst, 22/2/1999). Pada tanggal 21/2/1999 anggota Besi Merah putih kembali beraksi dengan memeriksa semua kendaraan yang melewati jalur itu. Namun tidak korban karena mereka hanya ingin mencari yang berambut panjang dan pro kemerdekaan. Wilayah mereka di sepanjang liquica sampai bobonnaro tepatnya kecamatan Atabae. Pada tanggal 22 Februari 1999 dikonfirmasikan ada 18 orang yang ditangkap aparat keamanan di desa Vatuvou. Penangkapan ini dilkakukan oleh pihak aparat akibat adanya dua orang yang melakukan perlawanan terhadap pihak aparat yang memback-up pihak Besi Merah Putih yang melakukan aksi penyerangan ke desa tersebut. Dalam perkelahian yang terjadi di pihak aparat dan kedua pemuda itu, aparat keamanan terperangkap oleh ajakan kedua pemuda itu untuk meletakkan senjata dan melakukan perkelahian secara jantang saja. Salah satu dari kedua pemuda itu merampas sepucuk senjata dengan enam buah maksen berisi peluru dan menyelamatkan diri (sampai sekarang belum diketahui keberadaanya). Sementara temannya telah ditangkap dan disiksa serta dianiaya oleh pihak aparat. Kini ia bersama ke-17 orang lainnya berada di POLRES Liquica. Alasan penangkapan terhadap korban karena mereka dituduh melakukan perkelahian dengan aparat keamanan saat tewasnya salah satu anggota Besi merah Putih (Joanico) Ke-18 orang itu adalah sbb.: 1. Amancio Pinto, 27 tahun, laki-laki, Katolik, alamat kampung Boravei desa Vatuvou, kecamatan Maubara, kabupaten Liquica, Timor Timur. 2. Jose Soares, 25 tahun, laki-laki, Katolik, alamat kampung Lissa-Lara, desa Vatuvou, kecamatan Maubara, kabupaten Liquica, Timor Timur. 3. Domingos dos Santos, 20 tahun, laki-laki, Katolik, alamat, kampung Lissa-lara, desa Vatuvou, kec, Maubara, kab. Liquica, Timor Timur. 4. Manuel Soares, 22 tahun, laki-laki, Katolik, alamat kampung Boravei desa Vatuvou, kecamatan Maubara, kabupaten Liquica, Timor Timur. 5. Joao Soares, 25 tahun, laki-laki, Katolik, alamat kampung Lissa-Lara, desa Vatuvou, kecamatan Maubara, kabupaten Liquica, Timor Timur. 6. Andre Serrao, 22 tahun, laki-laki, Katolik, alamat kampung Kaikassa, desa Lissa-dilla, kecamatan Maubara, kabupaten Liquica, Timor Timur. 7. Daniel Crisno, 24 tahun, laki-laki, Protestan, alamat kampung Lebuhae, desa Lissa-Dilla, kecamatan Maubara, kabupaten Liquica, Timor Timur. 8. Saturnino de Oliveira, 18 tahun, laki-laki, Katolik, alamat kampung Lebuhae, desa Lissa-Dilla, kecamatan Maubara, kabupaten Liquica, Timor Timur. 9. Joanico Olieveira, 19 tahun, laki-laki, Katolik, alamat kampung Lebuhae, desa Lissa-Dilla, kecamatan Maubara, kabupaten Liquica, Timor Timur. 10.Claudino Soares, 20 tahun, laki-laki, Katolik, alamat kampung Lebuhae, desa Lissa-Dilla, kecamatan Maubara, kabupaten Liquica, Timor Timur. 11.Armindo da Costa, 18 tahun, laki-laki, Katolik, alamat kampung Manu-Kbia, desa Lissa-Dilla, kecamatan Maubara, kabupaten Liquica, Timor Timur. 12.Manuel de Oliveira, 27 thun, laki-laki, petani, katolik, bertempat tinggal di kampung Lebuhae, Desa Lisa Dili, Kecamatan maubara, Liquica; 13.Eduardo, 25 tahun, laki-laki, katolik, petani, bertempat tinggal di kampung Kaikasa, desa Lisa-Dila, kecamatan maubara/Liquica 14.Umberto Afonso, 18 tahun, laki-laki, katolik, petani, bertempat tinggal di kampung Kaikasa, desa Lisa-Dila, kecamatan maubara/Liquica 15.Alfredo sanches, 20 tahun, laki-laki, katolik, petani, bertempat tinggal di kampung Lebuhae, desa Lisa-Dila, kecamatan maubara/Liquica 16.Joao da Silva, 23 tahun, laki-laki, katolik, petani, bertempat tinggal di kampung Ulunana/Tansmigrasi, kecamatan maubara/Liquica 17.Jose mendes, 27 tahun, laki-laki, katolik, petani, bertempat tinggal di kampung Boravei, desa Vatuvou, kecamatan maubara/Liquica 18.Florindo da Silva Nunes, 25 tahun, laki-laki, katolik, petani, bertempat tinggal di kampung Lisalara, desa Vatuvou, kecamatan maubara/Liquica. (Sebenarnya korban Florindo bersama temannya (diketahui tetapi tidak bisa disebutkan namanya karena alasan keamanan). Korban Florindo sementara ini ada di Polres Liquica tetapi kedua tangan dan muka telah disayat habis oleh aparat kepolisian (laporan Keluarga korban) sehingga menyebabkan korban sedera. Untuk sementara tidak akses bagi kelompok/organisasi untuk akses masuk kecuali keluarga korban. Sementara tadi malam sekitar jam 24.00 anggota besi merah kembali mengadakan penyerangan terhadap warga di desa Guico, kecamatan Maubara/Liquica, akibatnya 3 orang anggota besi merah tewas seketika dan lima orang mengalami luka berat (identitas mereka belum diketahui, tetapi sudah ada tim gabungan dari Y-Hak, Iustitia et Pax, Caritas Dili sudah ke lapangan untuk melakukan investigasi tentang kejadian tersebut. Akibat dari kejadian itu aparat keamanan sudah mem-back-up kelompok besi merah putih untuk melakukan penyerangan selanjutnya. Bersadasarkan informasi ini mohon Fortilos bersama teman-teman LSM lainnya berbuat sesuatu(23/2/1999) Tanggal 19 Februari 1999 kelompok Pro Integrasi melakukan Apel Akbar di Kecamatan Balibo. Kegiatan tersebut diprakarsai João Tavares, mantan Bupati Bobonaro dua periode, sekaligus pemimpin partisan wilayah Bobonaro, (sekarang Halilintar) bersama Muspida Tk. II Bobonaro melakukan sosialisasi otonomi paksa kepada warga kabupaten Bobonaro. Tanggung jawab siapa? “Menelantarkan nasib para janda merupakan pelanggaran hak asasi manusia” Perjuangan suatu bangsa untuk mencapai kemerdekaannya tidaklah mudah seperti membalik telapak tangan. Namun, membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit, seperti kehilangan nyawa dan kerugian materil lainnya. Imbas dari semuanya itu biasanya ditanggung oleh rakyat kecil. Hal yang sama terjadi juga di Timor Leste. Rakyat kecil yang menjadi lokomotif utama selama perjuangan sering mengalami berbagai macam penyiksaan dan bahkan bisa berbuntut pada kematian. Banyak perempuan Timor Lorosae yang menjanda karena suaminya terbunuh akibat kebiadaban militer Indonesia. Misalnya di Viqueque, terdapat salah satu desa yang dijuluki desa “janda” tepatnya di Lalerek Mutin. Disebut demikian karena sebagian besar perempuan di desa itu menjanda akibat suami mereka dibantai oleh TNI dalam peristiwa “Craras 1983”. Seiring dengan perjalanan waktu, jumlah perempuan Timor Lorosae yang kemudian menjanda kian bertambah terutama menjelang dan sesudah pelaksanaan referendum 1999. Di Liquica misalnya, terdapat satu organisasi keluarga korban bernama “Rate-laek”, yang merupakan kumpulan para janda yang suaminya dibunuh oleh TNI dan milisi saat sebelum dan sesudah pelaksanaan jajak pendapat 1999. Organisasi yang sama terdapat juga di Maliana dengan nama “Grupo 99” dan di Suai dengan nama “Mate-restu”. Sayangnya, hingga saat ini sebagian besar kehidupan mereka (para janda-red) sangat memperihatinkan. Para Janda korban kekerasan 1999 di Liquica(Foto: Cahyo/SIL) -------------------------------------------------------------------------------- Amelia dos Santos, salah seorang keluarga korban penyerangan Gereja Liquiça 1999, ketika ditemui Direito di kediamannya (03/07), ia mengatakan bahwa sejak suaminya meninggal ia terpaksa harus bekerja keras untuk menghidupi dan menyekolahkan 6 orang anaknya. Untuk mengatasi kesulitan ekonomi yang dihadapi, menurut Amelia, ia bersama teman-temannya (sesama janda-red) mendapat bantuan dari Fokupers dan Yayasan HAK. Dengan bantuan yang diberikan, katanya, mereka telah mendirikan sebuah koperasi dengan nama “Koperasi Ratelaek”. Koperasi tersebut dikelola secara bersama oleh para janda korban pembantaian di Gereja Liquica 1999. “Usaha ini (koperasi-red) sedikitnya telah membantu meringankan kesulitan ekonomi yang kami hadapi”, papar Amelia. Hal yang sama diungkapkan oleh Clara dos Santos. Janda beranak satu ini menuturkan bahwa sepeninggal suaminya, kehidupan ia bersama anaknya terpaksa menjadi beban dan tanggungan orang tuanya. “Saya merasa sangat kehilangan, sebab suami yang seharusnya menjadi tulang punggung keluarga telah tiada”, tuturnya dengan nada sedih. Diakuinya pula bahwa sejak suaminya terbunuh, ia terpaksa harus melewati masa yang sulit bersama anaknya. “Salah satu harapan untuk menghidupi dan menyekolahkan anak saya adalah mengelola koperasi”, tambahnya. Selain kelompok Ratelaek, Fokupers dan Yayasan HAK juga membantu kelompok 99 di Maliana. Kumpulan para janda yang suami mereka terbunuh saat sebelum dan sesudah referendum 1999. Kordinator 99, Regina Leite, ketika ditemui Direito, mengakui bahwa kelompoknya mendapat bantuan dari Fokupers dan Yayasan HAK untuk mendirikan sebuah koperasi. Tetapi sayangnya koperasi tersebut kurang begitu maju karena hambatan transportasi. “Usaha ini kurang berhasil karena kesulitan transportasi untuk pengadaan barang”, katanya dengan kesal. Kendala yang dihadapi Koperasi 99, dibenarkan oleh Staf Divisi Advokasi Fokupers, Rosi de Sousa. Ketika ditemui Direito di ruang kerjanya (12/07), ia mengatakan bahwa peran Fokupers sebatas mengorganisir dan mengarahkan, sedangkan inisiatif harus selalu dari para keluarga korban sendiri. Menurutnya, untuk mengatasi persoalan yang dihadapi diperlukan inisiatif dan kerjasama yang baik diantara anggota. Tanpa itu, persoalan yang dihadapi akan sulit diatasi. Lanjut Rosi, kegiatan lain yang dilakukan organisasinya bersama Yayasan HAK untuk memberdayakan para keluarga korban ialah memberikan pelatihan mengenai manajemen koperasi. Disamping itu dilakukan pula diskusi-diskusi intensif menyangkut isyu-isyu seperti hak asasi manusia, kekerasan, gender, rekonsiliasi dan proses penegakan hukum di Timor Lorosae. Selain untuk meningkatkan kapasitas mereka menuju kemandirian, tujuan paling utama ialah menggalang dukungan bagi penuntutan keadilan. Kehidupan para janda hingga saat ini seakan dibaikan begitu saja. Siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas keadaan mereka? Negara, terutama pemerintah punya tanggungjawab untuk menjamin kesejahteraan rakyat, terutama para janda yang suaminya telah mengorbankan jiwanya untuk kemerdekaan negeri ini. Sebab pengabaian terhadap nasib para keluarga korban bukan saja pengingkaran terhadap prinsip-prinsip dasar perjuangan Timor Lorosae, tetapi juga merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia. *** Tanggal 21 Februari 1999, Team Halilintar dibawah pimpinan João Tavares, melakukan aksi penangkapan dan penganiayaan warga Kecamatan Atabae. Tindakan brutal tersebut dilakukan ketika para warga sedang pulang gereja dan sedang berbelanja di pasar tradisional Atabae. Sedikitnya 6 orang warga Atabae yang bisa teridentifikasi identitasnya. Diantaranya : 1. David, 20an thn, laki-laki, Mahasiswa Untim, berasal dari Desa Raerobo, Kecamatan, Kabupaten Bobonaro. 2. Amandio, 30 thn, laki-laki, petani, berasal dari Desa Raerobo, Kecamatan, Kabupaten Bobonaro. 3. José, 20an thn, laki-laki, Mahasiswa Untim, berasal dari Desa Aidabalete, Kecamatan Atabae, Kabupaten Bobonaro 4. Mau-Ato, 20an thn, laki-laki, petani, berasal dari Desa Aidabalete, Kecamatan Atabae, Kabupaten Bobonaro. 5. Andre Guterres, 15 thn, laki-laki, petani, berasal dari Desa Raerobo, Kecamatan, Kabupaten Bobonaro. 6. Pedro, 20an thn, laki-laki, petani, , berasal dari Desa Raerobo, Kecamatan, Kabupaten Bobonaro. Ke-6 orang tersebut setelah ditangkap dipukul dengan menggunakan tongkat hingga babak belur. Berdasarkan informasi saksi mata bahwa setelah disiksa kemudian para korban dibawa ke Markas Koramil Atabae. Pada malam hari Team Halilintar yang telah dilengkapi dengan senjata otomatis mulai melakukan operasi di daerah Atabae dan sekitarnya. Sampai laporan ini dibuat belum diketahui nasib ke-6 orang warga yang telah ditangkap. Sementara pada tanggal 21 terjadi pengeledahan terhadap setiap penumpang pesawat dari jakarta dengan tujuan Dili tidak bisa mendarat beberapa jam karena diduga adanya BOM di bandara sehingga batal mengudara dan kembali mengudara di EL Tari Kupang. Akibat dari semua penumpang diperiksa sehingga saat itu Manuel Carascalao menanggapi dengan mengusir semua tentara agar segera pulang dari TL. Adapun ungkapan MC adalah seharusnya saya yang periksa kalian karena kalian di daerah saya, tidak tahu malu, kami bukan terroris, pulang ke daerah kalian. Menanggapi opsi dari untuk melepaskan TL dari jakarta sudah ribuan warga pendatang telah eksedous dan kemungkinan besar akan terjadi besar-besaran pada bulan maret dan april. Sudak sekitar 500 kendaraan roda empat dan ribuan kendaraan rod dua dipindahkan (sst, 22/2/1999). Pada tanggal 21/2/1999 anggota Besi Merah putih kembali beraksi dengan memeriksa semua kendaraan yang melewati jalur itu. Namun tidak korban karena mereka hanya ingin mencari yang berambut panjang dan pro kemerdekaan. Wilayah mereka di sepanjang liquica sampai bobonnaro tepatnya kecamatan Atabae. Pada tanggal 22 Februari 1999 dikonfirmasikan ada 18 orang yang ditangkap aparat keamanan di desa Vatuvou. Penangkapan ini dilkakukan oleh pihak aparat akibat adanya dua orang yang melakukan perlawanan terhadap pihak aparat yang memback-up pihak Besi Merah Putih yang melakukan aksi penyerangan ke desa tersebut. Dalam perkelahian yang terjadi di pihak aparat dan kedua pemuda itu, aparat keamanan terperangkap oleh ajakan kedua pemuda itu untuk meletakkan senjata dan melakukan perkelahian secara jantang saja. Salah satu dari kedua pemuda itu merampas sepucuk senjata dengan enam buah maksen berisi peluru dan menyelamatkan diri (sampai sekarang belum diketahui keberadaanya). Sementara temannya telah ditangkap dan disiksa serta dianiaya oleh pihak aparat. Kini ia bersama ke-17 orang lainnya berada di POLRES Liquica. Alasan penangkapan terhadap korban karena mereka dituduh melakukan perkelahian dengan aparat keamanan saat tewasnya salah satu anggota Besi merah Putih (Joanico) Ke-18 orang itu adalah sbb.: 1. Amancio Pinto, 27 tahun, laki-laki, Katolik, alamat kampung Boravei desa Vatuvou, kecamatan Maubara, kabupaten Liquica, Timor Timur. 2. Jose Soares, 25 tahun, laki-laki, Katolik, alamat kampung Lissa-Lara, desa Vatuvou, kecamatan Maubara, kabupaten Liquica, Timor Timur. 3. Domingos dos Santos, 20 tahun, laki-laki, Katolik, alamat, kampung Lissa-lara, desa Vatuvou, kec, Maubara, kab. Liquica, Timor Timur. 4. Manuel Soares, 22 tahun, laki-laki, Katolik, alamat kampung Boravei desa Vatuvou, kecamatan Maubara, kabupaten Liquica, Timor Timur. 5. Joao Soares, 25 tahun, laki-laki, Katolik, alamat kampung Lissa-Lara, desa Vatuvou, kecamatan Maubara, kabupaten Liquica, Timor Timur. 6. Andre Serrao, 22 tahun, laki-laki, Katolik, alamat kampung Kaikassa, desa Lissa-dilla, kecamatan Maubara, kabupaten Liquica, Timor Timur. 7. Daniel Crisno, 24 tahun, laki-laki, Protestan, alamat kampung Lebuhae, desa Lissa-Dilla, kecamatan Maubara, kabupaten Liquica, Timor Timur. 8. Saturnino de Oliveira, 18 tahun, laki-laki, Katolik, alamat kampung Lebuhae, desa Lissa-Dilla, kecamatan Maubara, kabupaten Liquica, Timor Timur. 9. Joanico Olieveira, 19 tahun, laki-laki, Katolik, alamat kampung Lebuhae, desa Lissa-Dilla, kecamatan Maubara, kabupaten Liquica, Timor Timur. 10.Claudino Soares, 20 tahun, laki-laki, Katolik, alamat kampung Lebuhae, desa Lissa-Dilla, kecamatan Maubara, kabupaten Liquica, Timor Timur. 11.Armindo da Costa, 18 tahun, laki-laki, Katolik, alamat kampung Manu-Kbia, desa Lissa-Dilla, kecamatan Maubara, kabupaten Liquica, Timor Timur. 12.Manuel de Oliveira, 27 thun, laki-laki, petani, katolik, bertempat tinggal di kampung Lebuhae, Desa Lisa Dili, Kecamatan maubara, Liquica; 13.Eduardo, 25 tahun, laki-laki, katolik, petani, bertempat tinggal di kampung Kaikasa, desa Lisa-Dila, kecamatan maubara/Liquica 14.Umberto Afonso, 18 tahun, laki-laki, katolik, petani, bertempat tinggal di kampung Kaikasa, desa Lisa-Dila, kecamatan maubara/Liquica 15.Alfredo sanches, 20 tahun, laki-laki, katolik, petani, bertempat tinggal di kampung Lebuhae, desa Lisa-Dila, kecamatan maubara/Liquica 16.Joao da Silva, 23 tahun, laki-laki, katolik, petani, bertempat tinggal di kampung Ulunana/Tansmigrasi, kecamatan maubara/Liquica 17.Jose mendes, 27 tahun, laki-laki, katolik, petani, bertempat tinggal di kampung Boravei, desa Vatuvou, kecamatan maubara/Liquica 18.Florindo da Silva Nunes, 25 tahun, laki-laki, katolik, petani, bertempat tinggal di kampung Lisalara, desa Vatuvou, kecamatan maubara/Liquica. (Sebenarnya korban Florindo bersama temannya (diketahui tetapi tidak bisa disebutkan namanya karena alasan keamanan). Korban Florindo sementara ini ada di Polres Liquica tetapi kedua tangan dan muka telah disayat habis olAeh aparat kepolisian (laporan Keluarga korban) sehingga menyebabkan korban sedera. Untuk sementara tidak akses bagi kelompok/organisasi untuk akses masuk kecuali keluarga korban. Sementara tadi malam sekitar jam 24.00 anggota besi merah kembali mengadakan penyerangan terhadap warga di desa Guico, kecamatan Maubara/Liquica, akibatnya 3 orang anggota besi merah tewas seketika dan lima orang mengalami luka berat (identitas mereka belum diketahui, tetapi sudah ada tim gabungan dari Y-Hak, Iustitia et Pax, Caritas Dili sudah ke lapangan untuk melakukan investigasi tentang kejadian tersebut. Akibat dari kejadian itu aparat keamanan sudah mem-back-up kelompok besi merah putih untuk melakukan penyerangan selanjutnya. Bersadasarkan informasi ini mohon Fortilos bersama teman-teman LSM lainnya berbuat sesuatuAA

Tidak ada komentar: